Translate

Saturday, April 27, 2013

Makanan Haram bagian 3

ALKITAB MENJAWAB TENTANG MAKANAN HARAM (BAGIAN KETIGA)
Bersambung dari bagian kedua:



68. DALAM KIS 15:19-20 BUKANKAH HANYA EMPAT HAL YANG WAJIB DIHINDARI OLEH ORANG KRISTEN NON-YAHUDI?

Kis 15:19-20
Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari
< !--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala,
< !--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->dari percabulan,
< !--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->dari daging binatang yang mati dicekik
< !--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->dan dari darah.

Jika kita membaca seluruh perikopnya, kita akan tahu bahw pada waktu itu ada orang-orang Yahudi yang tidak senang dengan masuknya orang-orang non Yahudi ke dalam persekutuan mereka. Jadi, untuk menghalangi hal itu, mereka mengharuskan semua hukum Musa tetap diberlakukan, salah satu di antaranya adalah mengenai sunat (baca ayat 1-5). Masalah ini kemudian dibawa ke sidang para rasul, dan pada akhirnya, ketua para rasul, yaitu Yakobus, membuat keputusan yang dicatat di ayat 19-20.
Kita perlu mengingat bahwa masalah sunat ini relevan di beberapa tempat, sehingga banyak kita jumpai di pelbagai surat para rasul pembahasan mengenai hal sunat ini.

Jika kita pelajari, kita akan mengerti, bahwa apa yang dikatakan Yakobus ini HANYA MENYANGKUT TOPIK-TOPIK YANG DIPERMASALAHKAN PADA WAKTU ITU.
Topik-topik yang tidak dipermasalahkan, tidak disinggung. Tetapi, apakah berarti topik-topik yang tidak disinggung di sini itu dihapus dan tidak berlaku lagi??

Apakah orang Kristen non-Yahudi
hanya perlu mematuhi empat hal yang disebut Yakobus ini?
Jadi, berarti mereka boleh membunuh?
mereka bolehberbohong?
mereka bolehtidak menghormati orangtua mereka?
mereka bolehsembarangan memakai nama Tuhan?
mereka bolehmabuk dan memakai narkoba?
mereka bolehmencuri?
Semua itu juga tidak disebutkan di sini!


Jadi, kalau kita berpendapat, bahwa kita boleh makan makanan yang diharamkan Tuhan karena hal itu tidak disebut di sini, berarti kita juga boleh mencuri, membunuh, berbohong, mabuk, memakai narkoba, dll. Karena semua itu juga tidak disebut di sini!Pemahaman Kristen macam apa itu?

Kalau kita tidak mau melakukan sesuatu, maka kita akan mencari 1001 alasan untuk tidak melakukannya, walaupun alasan-alasan itu tidak valid.






69. BAGAIMANA DENGAN ROMA PASAL 14:14?


Rom 14:14
Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.

Kalau kita membaca ayat ini dan Roma pasal 14 seluruhnya tanpa mempelajari latar belakang penulisan Paulus itu, mungkin kita bisa sampai kepada kesimpulan bahwa Paulus membenarkan segala boleh dimakan dan tidak ada yang najis lagi.
Tetapi kalau kita pelajari latar belakang penulisan Roma pasal 14 ini, kita tahu bahwa makanan yang dibahas Paulus di sini adalah makanan yang telah diper-sembahkan kepada berhala. Kala itu, orang-orang yang memuja berhala, memakan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala mereka, dan sisanya mereka jual.

Makanan yang dipersembahkan kepada berhala, banyak yang merupakan makanan yang halal untuk dimakan menurut ketentuan Tuhan, artinya dari hewan-hewan yang halal dimakan. Contohnya kita baca di:
Kis 14:13
Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.

Orang-orang Kristen pada zaman itu yang sudah memiliki pemahaman kekristenan yang mantap, melihat makanan tersebut hanyalah sebagai makanan pengisi perut, karena mereka tahu dewa-dewa berhala itu tidak ada, jadi walaupun makanan itu sudah dipersembahkan kepada dewa-dewa, itu tidak ada artinya sama sekali. Jadi mereka beli dan makan.

Persoalan timbul ketika saudara-saudara seiman mereka yang pemahaman kekristenannya masih rendah, menghakimi hal itu sebagai kesalahan, dan menganggap makanan bekas dipersembahkan kepada berhala, tidak layak dimakan oleh orang-orang Kristen.
Sebaliknya, mereka yang makan, menganggap saudara-saudara yang tidak makan itu “lemah” imannya, karena mereka masih menganggap dewa-dewa itu eksis.
Jadi topik yang dipertentangkan di sini adalah, APAKAH MAKANAN YANG TELAH DIPERSEMBAHKAN KEPADA BERHALA ITU HALAL ATAU TIDAK UNTUK DIMAKAN ORANG-ORANG KRISTEN.

Paulus sama sekali tidak berbicara tentang binatang yang haram atau halal untuk dimakan yang tercatat di Imamat 11.

Kita lihat nasihat Paulus:
Rom 14:20
Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!

Bandingkan dengan tulisan Paulus mengenai topik yang sama di:
1 Kor 10:25-29
Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Karena: "bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan." Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapikeberatan-keberatan hati nurani orang lain itu.

Dan topik yang sama lagi yang ditulis di
1 Kor 8:4, 7-10
Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa." ... Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya. "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan." Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

Paulus sendiri adalah orang Yahudi, bahkan Yahudi kolot sebelum dia bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Jadi, dia pasti tidak akan mengajarkan kepada orang lain untuk makan makanan yang diharamkan Tuhan karena dia sendiri tidak melakukannya.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa Paulus tidak membatalkan peraturan tentang makanan haram dan halal yang tercantum di Imamat pasal 11?

< !--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Karena yang membuat peraturan tentang makanan haram dan halal itu adalah Tuhan sendiri.
Imm11:1-2
Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka: "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi:

< !--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Karena Tuhan tidak pernah berubah.
Ibr. 13:8
Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Maz. 148:6
Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar.

Pengkh. 3:14-15
Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

Karena Tuhan tidak berubah itulah, maka semua ketetapanNya juga tidak berubah. Tidak mungkin Dia mengajarkan kepada nenek moyang kita sudah semenjak sebelum Air Bah mengenai apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh dimakan, lalu tiba-tiba Dia menyuruh Paulus mengajar bahwa semua boleh dimakan dan tidak ada yang najis. Apa yang telah terjadi yang telah membuat binatang-binatang itu berubah dari status haram menjadi halal dimakan?

Kita harus ingat, bahwa Yesus datang ke dunia ini untuk manusia, untuk menebus manusia, bukan untuk binatang. Jadi kedatangan Yesus ke dunia ini tidak ada dampaknya pada binatang-binatang. Yesus tidak menebus mereka dan tidak mengubah status mereka dari yang haram menjadi halal.







70. BUKANKAH 1 TIMOTIUS 4:4-5 MENGHALALKAN SEMUA MAKANAN?


BUKAN!
1 Timotius 4:5 tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan satu bagian yang dimulai dari ayat 1. Jadi marilah kita lihat keseluruhannya:

1 Tim 4:1-5
4:1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan
4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.
4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.
4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,
4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

Apakah Paulus berbicara mengenai makanan haram/halal di sini?
TIDAK!
Inti pesan Paulus adalah di ayat 1-2:
di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.”
Inilah yang diperingatkan Paulus.

Lalu Paulus melanjutkan dalam ayat 3-5, apa ajaran setan-setan tersebut, yaitu:
< !--[if !supportLists]-->* <!--[endif]-->melarang orang kawin,
< !--[if !supportLists]-->* <!--[endif]-->melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah
Inilah ajaran setan-setan itu.

“makanan yang diciptakan Allah” ini harus diapakan? Itu ditulis di ayat 3 selanjutnya, yaitu yang “dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.”
Di sini, jelas dikatakan bahwa yang “dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran” itu bukan sembarang makanan, tetapi khusus hanya “makanan yang diciptakan Allah”’
Ayat 4-5 merupakan alasan mengapa orang yang percaya dan yang mengenal kebenaran harus makan makanan yang diciptakan Allah: “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.”

Ya sudah pasti semua makanan yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram! Mana mungkin Allah menciptakan makanan yang tidak baik dan yang haram? Allah itu sendiri suci! Karena itu semua makanan yang diciptakan Allah itu “diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.”

Yang membuat timbulnya makanan yang haram itu karena MANUSIA MENJADIKAN HEWAN YANG TIDAK BOLEH DIMAKAN, MENJADI MAKANANNYA!
Allah tidak menciptakan hewan yang haram dimakan. Allah memang tidak menciptakan hewan untuk dimakan!

Sekarang, coba kita lihat yang jelas apa “makanan yang diciptakan Allah” untuk manusia itu.
Kita kembali ke pertanyaan yang paling awal, no. 55 di depan.

Kejadian 1:29
Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.”


Apakah di 1 Tim 4:1-5 Paulus berbicara mengenai hewan/daging hewan?
T I D A K!
Hewan itu tidak diciptakan Allah sebagai makanan manusia!
Allah tidak pernah menciptakan hewan untuk dijadikan makanan manusia.

Kembali ke 1 Timotius 4:1-5, jadi apa yang diperingatkan Paulus di sini?
Bahwa dikemudian hari ada umat Allah yang akan murtad [yang dibilang murtad pasti bukan orang kafir, pasti yang tadinya umat Allah], yang ikut roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan. Apa yang diajarkan ajaran setan-setan ini?
< !--[if !supportLists]-->· Tidak boleh menikah
< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Tidak boleh makan makanan yang diciptakan Allah untuk manusia, yaitu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan buah-buah yang berbiji.

Inilah yang diperingatkan Paulus. Sama sekali di sini Paulus tidak berbicara mengenai makanan haram/halal. Kita harus teliti dalam membaca ayat supaya tidak salah.

< !--[if !supportLists]-->ü <!--[endif]-->Apakah ada ajaran yang melarang orang kawin? Ada!

< !--[if !supportLists]-->ü <!--[endif]-->Apakah ada ajaran yang melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah untuk manusia? Secara tidak langsung, semua ajaran yang mengatakan manusia boleh makan segala sesuatu, itu melarang atau sedikitnya secara tidak disadari sudah mengalihkan manusia dari makanan yang memang diciptakan Tuhan untuk dimakan manusia!Manusia telah digiring untuk makan semua yang tidak diciptakan Tuhan untuk dimakan oleh manusia.

Jadi, di manakah posisi kita?







71. KALAU SUNAT DIHAPUS, BERARTI STATUS BINATANG HARAM JUGA DIHAPUS, BUKAN?


Kej 17:9-14
Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

Sunat merupakan tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham, bahwa keturunannya akan menjadi bangsa pilihan bagi Tuhan. Karena itu, sunat adalah khusus untuk orang Yahudi.

Sedangkan pemisahan antara binatang yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan, sudah diberikan Tuhan kepada manusia sebelum Air Bah terjadi. Pada waktu itu belum ada orang Yahudi, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa makanan haram/halal itu hanya berlaku bagi orang Yahudi.

Namun demikian, bagi kita, orang-orang Israel rohani atau Yahudi sejati, umatNya, Tuhan menghendaki agar kita bersunat hati.
Kisah 7:51
Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.

Roma 2:28-29
Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Maka, peraturan sunat itu tidak seluruhnya dibatalkan atau dihapus, hanya saja kalau dulu sunatnya adalah secara fisik [lahiriah], sekarang sunatnya adalah secara spiritual [rohani].Kalau dulu yang disunat adalah kulit alat kelamin, sekarang yang disunat adalah hati.
Kolose 2:11
Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa,







72. JADI, HARUSKAH ORANG KRISTEN MAKAN SESUAI YANG DITULIS DI KITAB IMAMAT PASAL 11?


1 Kor 10:31
Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Apakah makan yang diharamkan Tuhan untuk dimakan, termasuk makan untuk kemuliaan Allah atau makan untuk memuaskan lidah kita sendiri?

2 Kor 6:17
Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, danjanganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.
Kalau menjamah saja sudah najis, apalagi dimakan dan dimasukkan ke dalam mulut?

Rom 12:1-2
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pada waktu Tuhan menyuruh manusia memisahkan antara binatang yang haram dimakan dan yang tidak haram dimakan, apakah itu bukan kehendak Allah? Apakah Tuhan memberikan sesuatu yang tidak baik kepada manusia? Kita tahu bahwa semua pemberian yang baik itu datang dari Allah, dengan kata lain kita bisa berkata bahwa semua yang datang dari Allah itu adalah pemberian yang baik.


Yakobus 1:17
Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
Ayat di atas ini selain mengatakan bahwa Tuhan hanya mengaruniakan yang baik kepada kita, juga bahwa padaNya tidak ada perubahan atau bahkan bayangan perubahannya pun.
Nah, perintah untuk memisahkan antara binatang yang haram dan tidak haram dimakan, itu datang dari Allah. Maka itu jelas adalah suatu pemberian yang baik bagi manusia. Mengapa manusia ingin menentangnya dan mengemukakan 1001 alasan untuk melanggarnya? Sesungguhnya, dengan melanggarnya ini, secara tidak sadar kita berkata kepada Tuhan, “saya lebih tahu dari Engkau, Tuhan! Walaupun Engkau mengatakan makanan itu haram dimakan, tetapi menurut saya, itu tidak haram, maka saya memakannya saja.”

2 Kor 7:1
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.
Ayat ini jelas mengatakan bahwa kita harus menyucikan diri dari semua pencemaran jasmani dan rohani. Dengan makan makanan yang haram, jelas kita bukan saja melakukan pencemaran jasmani, tetapi juga pencemaran rohani, karena kita telah menempatkan nafsu/selera makan kita di atas Tuhan, kita telah melanggar hukum yang pertama dari 10 Hukum. Selera makan kita sudah menjadi allah bagi kita, yang bahkan bisa mengalahkan penurutan kita kepada Tuhan. Kita tidak lagi takut akan Allah.






73. BAGAIMANA NANTI DI DUNIA YANG BARU?


Setelah dunia kita yang lama ini lenyap dan Tuhan menciptakan dunia yang baru di bumi ini, kondisi aman-tenteram sejahtera bagi semua makhluk hidup akan dipulihkan. Lihat gambaran yang ditulis di:
Yes11:6-9
Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.
Jika kita sekarang tidak bisa melepaskan kegemaran kita makan segala yang diberi label “haram” atau “najis” oleh Tuhan, kita pasti tidak akan betah tinggal di dunia baru di mana kegemaran kita tersebut tidak bisa dipuaskan. Tentu saja hal ini akan memicu dua macam reaksi:
1. Kalau begitu mumpung sekarang di dunia ini kita masih bisa melakukannya, ya makan saja sebanyak-banyaknya, sebab nanti tidak ada lagi.
2. Kalau begitu sebaiknya kita berlatih mulai sekarang supaya nanti betah di dunia yang baru.
Semuanya tentu terpulang kepada manusia yang melakukannya.


Sebagai penutup, kita perlu mengingat ini:

KITA TIDAK BISA SELAMAT KARENA APA YANG TIDAK KITA MAKAN
TAPI
KITA BISA TIDAK SELAMAT KARENA APA YANG KITA MAKAN



Semoga pembahasan ini bermanfaat.




September 2012

Kuduskanlah hari sabat bagian 1

ALKITAB MENJAWAB TENTANG SABAT HARI KETUJUH BAGIAN PERTAMA
Bagian pertama


Kita bertanya
Alkitab menjawab – 1


HARI MINGGU B U K A N HARI TUHAN!

Selama 17 abad lebih, sejak abad ke-4 Masehi, orang Kristen menganggap Hari Minggu adalah hari Tuhan. Padahal sesungguhnya tidak demikian. Sejak zaman Adam hingga Yesus, sejak Kitab Kejadian hingga Kitab Wahyu, hari yang dipilih Tuhan sebagai hari-Nya, adalah hari yang ketujuh, yang perhitungannya dimulai saat matahari tenggelam hari keenam (Jumat) dan berakhir pada saat matahari tenggelam hari ketujuh (Sabtu), atau menurut perhitungan modern dimulai sekitar pukul 18:00 Jumat dan berlangsung hingga 18:00 Sabtu tergantung daerahnya.




1. KAPAN IBADAH HARI MINGGU ITU DIMULAI?

Menurut sejarah, sekitar tahun 120 AD, permusuhan terhadap paham dan praktek Yudaisme dari bangsa Romawi yang berkuasa saat itu, menjadi semakin parah. Pada tahun 132-135AD Kaisar Roma Hadrian menangkap semua orang Yahudi dan memulangkan mereka ke Palestina. Maka untuk mengelakkan diri dari penangkapan dan penyiksaan, orang-orang Kristen di Roma dan Alexandria yang lemah imannya, tidak berani melanjutkan ibadah hari sabat –yang di mata bangsa Romawi termasuk praktek Yudaisme. Agar mereka bisa tetap beribadah, mereka lalu beribadah pada hari pertama dalam minggu tersebut, supaya sama dengan yang dilakukan orang-orang Roma yang menyembah dewa matahari pada hari yang pertama juga.

Pada tahun 312AD Kaisar Constantine dari Roma mengaku menjadi Kristen. Maka pada tanggal 7 Maret 321AD, keluarlah Sunday Law-nya yang pertama:
On the venerable Day of the Sun let the magistrates and people residing in cities rest, and let all workshops be closed. In the country, however, persons engaged in agriculture may freely and lawfully continue their pursuits; because it often happens that another day is not so suitable for grain-sowing or for vine-planting; lest by neglecting the proper moment for such operations the bounty of heaven should be lost.” (Given the 7th day of March, Crispus and Constantine being consuls each of them for the second time [A.D. 321].)” Source: Codex Justinianus, lib. 3, tit. 12, 3; trans. in Philip Schaff, History of the Christian Church, Vol.3 (5th ed.; New York: Scribner, 1902), p.380, note 1.

“Pada hari Matahari yang dihormati (1) semua pejabat dan rakyat yang tinggal di kota-kota, harus berhenti bekerja, dan semua tempat kerja ditutup. Namun, di pedesaan mereka yang mengerjakan agraria, boleh dengan bebas dan sah melanjutkan pekerjaan mereka; karena sering terjadi hari yang lain tidak cocok untuk menabur benih atau untuk menanam; sehingga dengan mengabaikan saat yang tepat untuk tindakan-tindakan tersebut, kemakmuran yang diberikan langit bisa hilang.” [terjemahannya]
Note (1):Karena sebelum menjadi Kristen, Constantine adalah seorang penyembah dewa matahari, perhatikan pada Sunday Law-nya yang pertama didekritkan tanggal 7 Maret 321AD, dia masih menyebut hari Minggu sebagai “the venerable Day of the Sun” = “hari Matahari yang dihormati”. Jadi jelas bahwa hari Minggu yang sampai sekarang namanya masih tetap SUNday (dalam hampir semua bahasa di Eropa), tadinya adalah hari penyembahan kepada dewa matahari.

Pada tahun 325AD, Constantine ikut mengepalai Konsili Pertama Nicea. Pada tahun 330AD, Constantine memindahkan ibukotanya dari Roma ke Constantinople [Istambul], sehingga meninggalkan tahta di Roma kosong, yang kemudian diserahkan keturunannya kepada Paus Roma sebagai penerusnya. Dengan semakin kuatnya posisi Kepausan, maka pada tahun 336AD, Konsili di Laodecea mengesahkan perpindahan kesucian hari yang ketujuh ke hari yang pertama. Pada tahun 336AD itulah gereja Katolik mengeluarkan 59 Canon Laws. Dan no.XXIX mengatakan:
Christians must not judaize by resting on the Sabbath, but must work on that day, rather honouring the Lord's Day; and, if they can, resting then as Christians. But if any shall be found to be judaizers, let them be anathema from Christ.” (Percival Translation).
“Orang-orang Kristen tidak boleh mempraktekkan yudaisme dengan berhenti bekerja pada hari sabat, tetapi harus bekerja pada hari itu, sebaliknya menghormati hari Minggu; dan apabila mereka bisa, berhenti pada hari itu sebagai orang-orang Kristen. Tetapi siapa pun yang didapati mempraktekkan yudaisme, biarlah mereka dikucilkan (diekskomunikasi) dari Kristus.”
Jadi jelaslah bahwa ibadah pada hari pertama (hari Minggu/hari Matahari=Sunday),baru terjadi jauh setelah kematian Yesus Kristus di kayu salib.

Menurut Anda, apakah Tuhan berkenan pengikut-pengikutNya mengalokasikan kepadaNya hari yang dulunya (dari zaman Babilon) dialokasikan kepada penyembahan berhala dewa matahari? Hari yang sampai sekarang masih memakai stempel (cap)“matahari” pada namanya (SUNday, Zondag, Sontag, dll.)? Apakah hal ini tidak membuat Tuhan murka? Padahal Tuhan sudah lebih dulu (sejak penciptaan dunia) menentukan memilih hari ketujuh sebagai hari milikNya!





2. DI MANA DISEBUT HARI KETUJUH ITU MILIK TUHAN?

Kel. 20:8-11
“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Yes. 58:13-14
Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.”


Di seluruh Alkitab, tidak ada satu hari yang lain mana pun yang disebut Tuhan sebagai “hari Sabat TUHAN, hari kudus-Ku;hari Sabat “hari kenikmatan, hari yang mulia". Hari yang ketujuh sudah diklaim Tuhan sebagai milikNya.

Inilah perkataan Tuhan sendiri yang dicatat oleh nabi-nabiNya.
Di seluruh Alkitab Tuhan tidak pernah menyuruh umatNya untuk mengganti hariNya (hari yang ke-7) ke hari yang lain. Walaupun Yesus Kristus bangkit pada hari pertama, Dia tidak pernah mengatakan “Mulai sekarang kalian bersabat pada hari yang pertama.” Tidak pernah ada ayat itu. Bahkan murid-muridNya pun saat mengabarkan injil ke mana-mana, juga tidak pernah menulis bahwa mereka tidak lagi bersabat pada hari ketujuh melainkan pada hari pertama. Tidak ada itu! Dan memang itu tidak pernah terjadi. Bahkan dari surat-surat Paulus kita tahu dia selalu mengajar tentang kebenaran Tuhan pada hari ke-7.






3. ATAS AUTORITAS SIAPA TERJADI PERUBAHAN HINGGA ORANG KRISTEN BERSABAT PADA HARI PERTAMA?

Gereja katolik (satu-satunya gereja pada masa itu) sendiri dalam buku mereka The Converts Catechism of Catholic Doctrine, hal 50, mengakui bahwa :
“We observe Sunday instead of Saturday because the Catholic Church in the Council of Laodicea (AD 336) transferred the solemnity from Saturday to Sunday.” [terj. “Kita memelihara hari Minggu sebagai ganti hari Sabtu karena Gereja Katolik pada Konsili Laodekia (AD 336) telah memindahkan kesucian dari hari Sabtu ke hari Minggu.”]

Dari Roman Catechism cetakan ke-5 th 1976, terjemahan bahasa Inggris oleh pastor J. Donovan, D.D. Domestic Prelate kepada Yang Mulia Gregory XVI, tertulis:
“It pleased the church of God, that the religious celebration of the Sabbath day should be transferred to ‘The Lord’s Day’(Sunday); for as on that day light first shone on the world; so by the resurrection of our Redeemer on that day, who opened to us the gate to life eternal, our life was recalled out of darkness into light; whence also the Apostles would have it named ‘the Lord’s day.’ We also observe in the Sacred Scriptures that this day was held sacred because on that day the creation of the world commenced, and the Holy Ghost was given to the apostles.”

Jadi, gereja Katolik-lah ATAS AUTORITASNYA SENDIRI yang mengubah hari yang disucikan Tuhan dari hari ketujuh ke hari penyembahan dewa matahari!

Jadi bagaimana? Apakah kita seharusnya menurut perintah Tuhan yang diwariskan kepada kita di Alkitab, atau kita memilih untuk melanggar perintah Tuhan dan mengikuti perintah manusia dan menyucikan hari yang didedikasikan kepada dewa matahari?





4. MANAKAH HARI YANG KETUJUH ITU?


Hari ke-7 itu hari Sabtu! Tidak ada bedanya dalam hitungan mingguan antara kalender Yahudi dengan kalender Masehi, karena sama-sama 1 minggu terdiri atas 7 hari. Dan hari yang ke-7 itu adalah hari Sabtu. Kita lihat dari nama hari ke-7 pelbagai bahasa, misalnya:



< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Latin (Itali) Sabbatum
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Spanyol Sabado
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Portugal Sabbado
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Itali Sabbato
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Indonesia Sabtu
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Perancis Samedi
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Jerman Samstag
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Rusia Subbota
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Polandia Sobota
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Latin dies Saturni
< !--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Bahasa Inggris Saturday





5. SELAMAT OLEH KASIH KARUNIA, BUKAN OLEH PERBUATAN


Efe. 2:8-9
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
For by grace you have been saved through faith, and that not of yourselves; it is the gift of God not of works, lest anyone should boast. [NKJV]

Sebenarnya terjemahan bahasa Indonesia agak rancu. Yang benar adalah
“Sebaboleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman;itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Inilah ayat pegangan setiap orang Kristen. SANGAT BENAR! Tidak ada satu perbuatan apa pun yang bisa menyelamatkan kita. Kita HANYA DISELAMATKAN OLEH KASIH KARUNIA TUHAN, MELALUI IMAN KITA. Keselamatan itu adalah “pemberian Allah” bukan hasil pekerjaan kita.
Tetapi janganlah karena kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan lalu diartikan kita bebas berbuat sesuka hati setelahkita diselamatkan.






6. APAKAH PERBUATAN KITA MEMPENGARUHI STATUS SELAMAT KITA?

Yak. 2:26
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”

Yehez. 24:14
“Aku, TUHAN, yang mengatakannya. Hal itu akan datang, dan Aku yang akan membuatnya. Aku tidak melalaikannya dan tidak merasa sayang, juga tidak menyesal. Aku akan menghakimi engkau menurut perbuatanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH."

Pengkh. 12:13-14
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.”

Yer. 17:10
Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."
Jelas di sini, Tuhan mengingatkan bahwa perbuatan kita bisa membatalkan status selamat kita. Kesimpulannya:

PERBUATAN KITA TIDAK BISA MENYELAMATKAN KITA
TETAPI
PERBUATAN KITA BISA TIDAK MENYELAMATKAN KITA






7. BUKANKAH “SABAT HARI KETUJUH” ITU HUKUM MUSA YANG SUDAH DIHAPUS YESUS?

BUKAN!
Hukum Sabat hari ke-7 itu adalah hukum yang ke-4 dari 10 HUKUM TUHAN yang ditulis oleh jari Tuhan sendiri pada dua loh batu. Tuhan khusus menulisnya di atas batu, memberikan kesan bahwa itu bersifat permanen. Tulisan di atas batu tidak akan bisa hilang kecuali batunya dipecahkan.

Kel. 31:18 -19
Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.

Kel. 32:15 -16
Setelah itu berpalinglah Musa, lalu turun dari gunung dengan kedua loh hukum Allah dalam tangannya, loh-loh yang bertulis pada kedua sisinya; bertulis sebelah-menyebelah. Kedua loh itu ialah pekerjaan Allah dan tulisan itu ialah tulisan Allah, ditukik pada loh-loh itu.

Untuk membaca seluruh hukum yang ditulis Tuhan pada kedua loh batu itu, bukalah Keluaran pasal 20. Anda akan mendapatkan hukum tentang sabat hari ketujuh ini pada ayat 8-11.
10 HUKUM TUHAN ini tidak pernah dihapus oleh Yesus. Sepanjang sejarah dunia, itulah satu-satunya hukum yang DITULIS OLEH TUHAN SENDIRI.Sedemikian pentingnya dan sakralnya hukum ini, Tuhan tidak mempercayakan Musa atau nabi yang lain untuk menulisnya, tetapi TUHAN SANG KHALIK, DIALAH YANG MENULIS SENDIRI! Apakah menurut Anda, hukum yang begitu diistimewakan Tuhan ini bisa diganti?
Tidak. Justru inilah standar yang dipakai Tuhan untuk menghakimi perbuatan manusia!(lihat pertanyaan no. 6 di atas)

Selain 10 HUKUM yang ditulis Tuhan, Musa juga disuruh Tuhan menulis hukum-hukum yang diturunkan Tuhan kepadanya ketika dia berada selama 40 hari di atas G. Sinai bersama Tuhan. Ini disebut Hukum Musa, ditulis di gulungan kulit, tidak pada loh batu, dan karena itu sering disebut Kitab Hukum. Sedangkan 10 HUKUM TUHAN tidak pernah disebut “Kitab” karena ditulis di loh batu.

Hukum yang dihapus oleh salib Kristus adalah hukum-hukum yang ditulis oleh Musa yangmengatur tentang hari-hari sabat upacara **) yang merupakan antitipe dari pekerjaan penebusan Kristus (hari raya Passah, hari raya Roti tak Beragi, hari raya Buah Sulung, hari raya Pentakosta, hari raya Nafiri, hari raya Pendamaian, hari raya Pondok Daun). Semua peraturan imamat suku Levi, dan segala peraturan upacara kurban ini berakhir di salib karena semua peraturan itu merupakan lambang/bayangan dari pekerjaan penebusan Kristus. Ketika Kristus Domba Allah yang sejati berseru “Sudah selesai” di atas salib, persis pada jam domba Passah seharusnya disembelih di Bait Allah, tirai Bait Allah pun robek menjadi dua, menandakan berakhirnya fungsi Bait Allah sebagai tempat mempersembahkan kurban untuk dosa. Sejak saat itu manusia tidak perlu lagi memakai hewan domba untuk kurban dosa karena Kristus sudah menjadi kurban bagi dosa kita. Imamat orang Levi sudah digantikan oleh Imamat Yesus Kristus. Itu yang dihapus!


Note:
**)
HARI SABAT ARTINYA HARI ISTIRAHAT, HARI PERHENTIAN, HARI LIBUR KERJA,istilah kita “tanggal merah”.
Di Alkitab ada banyak hari sabat [hari libur kerja/tanggal merah], sama dengan kalender kita.
Hari libur kerja yang pertama diperkenalkan Tuhan adalah hari ketujuh,ketika Tuhan sudah selesai menciptakan langit dan bumi dan semua isinya, dan Tuhan berhenti dan menetapkan hari ketujuh yang pertama-tama itu sebagai hari perhentian. Sejak itu, sepanjang masa, setiap hari yang ketujuh, adalah hari libur kerja, karena itu hari ketujuh dalam satu minggu disebut hari Shabbat (Hebrew: שַׁבָּת, Ashkenazi pronunciation: Shabbos, Yiddish: שאבּעס
Ini kemudian diikuti oleh semua bangsa sehingga hari yang ketujuh dikenal dengan nama Sabbatum [Latin], Sabado [Spanyol], Sabbato [Itali], Sabtu [Indonesia], dll.
Tetapi selain hari yang ketujuh, masih ada hari-hari sabat [hari libur kerja] lainnya. Jadi dalam membaca ayat-ayat di Alkitab, kita perlu teliti, hari libur kerja [hari sabat] yang mana yang dimaksudkan, karena ada hari sabat mingguan (tiap 7 hari) ada hari sabat upacara.



8. BUKANKAH SABAT HARI KETUJUH ITU HANYA UNTUK ORANG YAHUDI?

BUKAN!
Kej 2:2-3
Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
Sejak awal penciptaan dunia, begitu seluruh ciptaan sudah selesai dijadikan, Tuhan menetapkan hari sabat yang pertama. Waktu itu belum ada bangsa Yahudi. Waktu itu hanya ada Adam dan Hawa, nenek-moyang bangsa manusia.
Adam dan hawa itu bangsa apa? Bangsa Manusia. Yang jelas BUKAN BANGSA YAHUDI, karena bangsa Yahudi baru ada pada waktu Abraham, ribuan tahun kemudian.
Sabat hari ketujuh adalah sabat yang tertua, hari libur kerja yang pertama, yang diperkenalkan Tuhan saat Adam baru berusia 1 hari, saat dunia ini baru berusia 7 hari.

Apakah sabat hari ketujuh ini tidak berlaku bagi kita?
Yah, kecuali kita merasa tidak termasuk bangsa manusia, maka sabat hari ketujuh initidak berlaku bagi kita, karena dia berlaku bagi semua bangsa manusia keturunan Adam.




9. SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BERARTI MANUSIA BOLEH MEMBATALKAN SABAT KALAU MAU?

Mar 2:27-28
Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

Ini adalah salah satu ayat yang sering dipakai untuk mendukung pembelaan bahwa sabat (hari ketujuh) sudah tidak mengikat lagi, dengan alasan manusia lebih tinggi derajatnya daripada Sabat Hari Ketujuh, jadi manusia boleh saja membatalkannya.
Tapi ini adalah pengertian yang sama sekali keliru. Coba kita baca ayat itu dengan teliti:

1. “Hari Sabat (1)diadakan (2)untuk manusia”
< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Kata “diadakan” berasal dari kata dasar “ada” yang artinya “eksis”, “berwujud.” “diadakan” artinya “dijadikan ada”.
Jadi sabat [perhentian] hari ketujuh itu dijadikan ada/diciptakan oleh Tuhan untuk manusia.
Karena yang menciptakannya itu adalah Tuhan, maka manusia tidak boleh mengubahnya sesuka hati. Yang berhak mengubahnya hanyalah Tuhan, tetapi karena Tuhan itu tidak pernah berubah, maka peraturanNya pun tidak berubah.
“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”[Ibr 13:8]

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu. [Pengkh 3:14-15]

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. [Yak 1:17]

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->“untuk manusia” jelas menunjukkan bagi siapa Hari Sabat itu diadakan. Bukan untuk hewan, bukan untuk bangsa Yahudi saja, tetapi“untuk manusia”. Semua yang masuk golongan manusia. Apakah ada dari antara kita yang merasa tidak termasuk golongan manusia? Bagi yang merasa tidak termasuk golongan manusia, maka Hari Sabat itu memang bukan untuk dia.

2. “dan bukan manusia untuk hari Sabat.”
Kalimat ini menerangkan bahwa manusia-lah yang membutuhkan Hari Sabat. Hari Sabat tidak membutuhkan manusia! Pada proses penciptaan, Tuhan tidak menciptakan Hari Sabat dulu, baru menciptakan manusia untuk hari Sabat. Tetapi justru setelah Tuhan menciptakan manusia, maka Tuhan mengadakan Hari Sabat untuk kepentingan manusia. Andai Tuhan tidak menciptakan manusia, Tuhan tidak perlu menciptakan hari Sabat!
Sabat (hari ketujuh) itu dibutuhkan manusia karena setiap hari yang ke-7 kita diingatkan bahwa kita hanyalah makhluk ciptaan, dan keberadaan dan kesejahteraan kita bergantung seluruhnya kepada Khalik Pencipta kita. Inilah salah satu bentuk ketaatan kita kepada Khalik kita.
Sabat hari ketujuh adalah untuk memperingati event penciptaan dunia. Inilah alasan mengapa setiap hari ke-7, manusia harus berhenti dari pekerjaannya yang rutin, bersujud dan menyembah Tuhan, karena Dia-lah yang menciptakan kita, Dia-lah yang patut kita sembah.

3.Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.’"
Nah, di sini jelas Yesus yang mengklaim bahwa Dia-lah Tuhan atas hari Sabat.
Bukan manusia yang menjadi tuan atas hari Sabat, oleh sebab itu manusia tidak boleh sesuka hatinya mengubah harinya!Tetapi Tuhan Yesus sendiri-lah yang memiliki hari Sabat itu.Dialah Tuhan atas hari Sabat.
Sekali lagi di sini jelas, hari Sabat itu bukan punya kita, jadi kita tidak boleh berbuat sesukanya dengan hari itu. Hari Sabat itu kepunyaan Tuhan. Mark. 2:28 ini dengan jelas mengatakan demikian. Begitu juga Kel. 20:10
“tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu;maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.”

Andai Sabat hari ketujuh itu sudah dihapus, bagaimana Yesus bisa berkata Dia-lah Tuhan atas hari Sabat? Bagaimana Yesus bisa menjadi Tuhan atas sesuatu yang tidak berlaku atau tidak eksis? Memangnya Tuhan Yesus itu Tuhan atas sesuatu yang omong kosong? Ayat ini saja sudah meneguhkan bahwa Sabat hari ketujuh itu TETAP EKSIS! Dan Tuhannya adalah Yesus Kristus sendiri,yang menciptakannya.


Kesimpulan:Mar.2:27-28 sama sekali tidak memberi manusia wewenang untuk mengubah hari Sabat. Ayat ini justru meneguhkan, bahwa kita sebagai bangsa manusia diberi Hari Sabat oleh Tuhan supaya kita peliharakan, karena hari Sabat itu milik Tuhan, Yesus-lah Tuhan atas hari Sabat. Kalau kita bilang kita mencintai Yesus, tentunya kita menghormati apa yang diklaim sebagai milikNya.




10. SEPULUH HUKUM KAN SUDAH DIGANTI DENGAN “THE GOLDEN RULES”?


Mat. 22:37-40
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Mat. 22:37-39 dikenal dengan sebutan “The Golden Rules” dan sering dijadikan alasan orang Kristen modern untuk melupakan 10 HUKUM TUHAN. Bukankah oleh Kristus ke-10 Hukum itu sudah disingkat menjadi 2 ini saja?
TIDAK!

Yesus tidak menghapus 10 Hukum, tetapi Dia merangkum ke-10 Hukum itu menjadi 2 hukum besar.Dia membagi ke-10 Hukum itu menjadi 2 kelompok:
(1) yang satu menyangkut hubungan kita dengan Tuhan
(2) yang kedua menyangkut hubungan kita dengan sesama manusia.

Bagaimana menurut Tuhan kita seharusnya mencintai Tuhan dengan seluruh hati dan akal budi kita?Apa pedomannya? Apa setiap orang boleh menjabarkannya sesuka hatinya sendiri? Kalau begitu setiap orang bisa punya standar yang berbeda.
Bagaimana menurut Tuhan kita seharusnya mencintai orang lain? Sudah pasti Tuhan tidak akan membiarkan setiap orang menentukan sendiri standarnya.

Karena itu Tuhan memberi keterangan dengan berkata: Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Apa maksudnya?
Artinya, seluruh hukum Taurat (pada waktu Yesus berkata ini Dia belum disalib, sehingga seluruh hukum Taurat termasuk Taurat Musa masih berlaku) dan kitab para nabi (= kitab Perjanjian Lama) tergantung, atau istilah kita sekarang: “attached” kepada kedua Golden Rules itu.
Kalau kita menerima surat atau email dengan tulisan“attached”, apakah yang di-attached-kan itu tidak berlaku atau tidak berarti? Andai tidak berlaku dan tidak berarti, tentu tidak perlu di-attached-kan, bukan? Justru karena di-attached kepada surat itu, berarti ada maknanya, berlaku, penting, harus dibaca, harus ditindaklanjuti.
Hukum yang pertama: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Cara pelaksanaannya terdapat di:

Kel. 20:2-11
"Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
(1) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
(2) Jangan membuat bagimu patungyang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya,sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
(3)Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
(4)Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Beginilah Tuhan minta kita mencintaiNya, yaitu dengan melakukan hukum ke-1 hingga ke-4 dari 10 HUKUMNya.

Sedangkan“hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”Cara pelaksanaannya terdapat di:
Kel. 20:12-17
(5) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
(6) Jangan membunuh.
(7) Jangan berzinah.
(8) Jangan mencuri.
(9) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
(10)Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

Beginilah – menurut standar Tuhan –kita mencintai sesama manusia.

Kesimpulannya: The Golden Rules itu hanyalah rangkuman atau judul [titel], atau sinopsis dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Juklak pelaksanaan dari “the Golden Rules” ini terdapat di hukum Taurat dan Kitab para Nabi. The Golden Rules sama sekali tidak menghapus 10 Hukum Tuhan.

The Golden Rules ini sendiri bisa disimpulkan lagi dengan hanya satu kata, yaitu KASIH. Itulah Hukum Tuhan. Hukum Kasih.

1 Yoh. 4:8
“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab ALLAH ADALAH KASIH.”







11. APAKAH “KASIH” ITU?

Yoh. 14:15
"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

1 Yoh. 2:5
Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.




12. APA KATA KITAB PERJANJIAN BARU TENTANG HUKUM TUHAN?

Yoh. 14:15
Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.
If ye love me, keep My Commandments.
Yak. 1:25
Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Mat.19:17
Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."

1 Yoh. 2:3-6
“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Yoh. 15:10
“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.


Jadi, “mengasihi”Yesus adalah “menuruti perintah-perintahNya”, bukan malah melanggar hukum-hukumNya.



13. BUKANKAH YESUS SUDAH MENGGENAPI SEMUA HUKUM SEHINGGA KITA TIDAK USAH LAGI MELAKUKANNYA?

BUKAN!

Mat. 5:17-19
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku [Yesus] datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Katamenggenapi di sini, bahasa Inggrisnya adalah “to fulfil” bukan “to end”. “Menggenapi”artinya memenuhi semua yang sudah dijanjikan. Sama sekali tidak mengandung arti“menghapus” atau “melenyapkan”.

Kita lihat dalam dua contoh berikut (ada banyak, baca seluruh Matius pasal 5 dan 6). Yesus memberikan pemahaman baru kepada hukum “Jangan membunuh” dan “Jangan berzinah”.
Mat. 5:21-22
“Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”

Mat 5:27-28
“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”

Yesus TIDAK mengajarkan ajaran baru. Tetapi Yesus memperkenalkan PEMAHAMAN BARU kepada hukum-hukum [dan ajaran-ajaran] yang sudah ada, tetap ajaran yang dulu, yang hanya dimengerti secara jasmani, sekarang Yesus memperkenalkan pengertian secara rohani.Itulah yang dimakksud dengan “menggenapi” di sini.

Jika kita membaca seluruh Matius pasal 5 dan 6, kita akan mendapatkan bahwa YESUS TIDAK DATANG UNTUK MENGHAPUS ATAU MEMBATALKAN HUKUM, melainkan DIA JUSTRU MENEGUHKAN HUKUM! Suatu pelanggaran yang dulu baru dihitung dosa setelah ada tindakan, sekarang kata Yesus, sudah dihitung dosa saat masih di dalam hati, sebelum ada tindakan apa pun. Yesus justru menegaskan Hukum bukan lagi HANYA dipatuhi secara fisik, yang kelihatan mata, tetapi HARUS SECARA MENTAL, MULAI DARI HATI!
Hukum yang dulu hanya dijalankan secara lahiriah, sekarang Yesus berkata, hukum itu sebenarnya harus dijalankan secara rohaniah. Kalau dulu di zaman Perjanjian Lama hanya dilakukan separo, sekarang diajarkan Yesus untuk dilakukan SECARA SEMPURNA. Itulah yang dimaksud dengan “menggenapi.”

Yes. 42:21
The LORD is well pleased for His righteousness' sake; He will magnify the law, and make it honourable.
TUHAN berkenan menyelamatkan; Ia ingin hukum-Nya dihormati dan diagungkan. (ABS)

Kata “magnify”sebenarnya berarti “menjadikan lebih besar”, ibarat orang melihat lewat kaca pembesar, tulisan yang tadinya kecil-kecil, menjadi terlihat lebih besar dan jelas.





14. BUKANKAH YESUS DAN MURID-MURIDNYA PUN MELANGGAR SABAT HARI KETUJUH, BERARTI SABAT SUDAH TIDAK BERLAKU LAGI?

BUKAN! Kisahnya bisa dibaca di:

Matius 12:1-8
Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat." Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Yang mengatakan murid-murid Yesus melanggar sabat adalah orang-orang Farisi. Tuduhan itu dijawab sendiri oleh Yesus di ayat ke 7, bahwa murid-muridNya itu tidak bersalah. Dan di ayat ke-8, Yesus secara sarkastis mengatakan, Dia-lah Tuhan atas hari Sabat, dengan kata lain Dia yang menciptakannya, maka sudah jelas Dia-lah yang paling tahu bagaimana kesucian hari Sabat itu harus dipelihara menurut kehendakNya! Jelas bukan seperti yang diajarkan orang-orang Farisi.

Sesungguhnya tidak ada larangan untuk makan pada hari sabat. Bagi mereka yang ada di rumah pada waktu makan, tentunya makanan untuk sabat sudah disiapkan sebelumnya. Tetapi bagi murid-murid Yesus yang bepergian terus mengikuti Sang Guru, maka tidak ada orang yang menyiapkan makanan/bekal untuk mereka. Jika pada hari-hari lain mereka bisa membeli makanan, tetapi justru karena hari itu mereka menghormati hari sabat, mereka tidak membeli makanan mereka.Jadi mereka memetik gandum untuk dimakan. Itu sah-sah saja. Apa bedanya mengambil roti dari atas meja dan memasukkannya ke dalam mulut dengan memetik bulir gandum di ladang lalu memasukkannya ke dalam mulut? Lain halnya kalau mereka memetik gandum, lalu dikumpulkan dan dijual. Itu baru namanya melanggar kesucian hari sabat.

Yesus berkata demikian sebagai teguran kepada orang-orang Farisi yang telah membuat peraturan-peraturan tambahan sehingga hari sabat itu sedemikian beratnya dan menjadi beban. Orang-orang Farisi ini mengira bahwa jika hukum Tuhan itu dibuat semakin berat, maka bagi yang bisa melaksanakannya, pastilah dia mendapat pahala terbesar. Mereka tidak mengerti bahwa melaksanakan hukum Taurat tidaklah menyelamatkan mereka. Mereka tidak mengerti konsep iman Abraham. Mereka justru tidak punya iman.Mereka menolak Mesias yang ada di depan mereka karena mereka tidak punya iman.

Luk. 12:1
“… Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”

Luk. 11:46
Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.”

Mat. 23:13
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.”

Jadi apakah teori-teori orang Farisi ini benar?
Mat. 5:20
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu [NKJV: righteousness = kebenaran] tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Menurut sejarah, setelah penghancuran Jerusalem dan Bait Allah yang pertama oleh orang-orang Babilon pada zaman Nebukadnesar, dan orang-orang Yahudi kemudian kembali ke tanah air mereka pada tahun 457BC, para imam dan ahli-ahli kitab mereka begitu takut umat Yahudi akan menyeleweng dari Tuhan lagi dan mengakibatkan mereka ditumpas dan ditawan musuh lagi, maka mereka berusaha mendidik umat Yahudi menjadi uumat yang benar-benar patuh kepada hukum-hukum Tuhan. Dari saat itulah mereka menciptakan peraturan-peraturan tambahan yang sangat ketat mengenai pemeliharaan sabat hari ketujuh, yang sangat memberatkan dan menyebabkan hari ketujuh ini bukan lagi “hari kenikmatan” (Yes. 58:13-14). Inilah yang disalahkan oleh Yesus. Inilah mengapa Yesus berkata bahwa “Dialah Tuhan atas hari Sabat”, jadi cara menguduskan hari Sabat itu harus sesuai yang diajarkanNya, bukan menurut segala peraturan yang ditambahkan para imam dan ahli kitab orang Yahudi.

 
bersambung ke bagian kedua

Posted  by