Translate

Saturday, April 27, 2013

Kesaksian Ki-Gendeng Pamungkas "Yesus Menggandeng Tangan Saya"


 
Nama Ki-Gendeng Pamungkas tentu dikenal oleh banyak orang pada umum-nya,
terutama bagi yang menyukai dunia supranatural. Ki-Gendeng dikenal
sebagai seorang paranormal kontroversial yang sering melontarkan
pernyataan-pernyataan ramalan-nya dan banyak dimuat media massa. Bahkan
di-kartu nama-nya sendiri, ia benar-benar menunjuk-kan
ke-‘gendeng’-an-nya dengan men-cantum-kan tulisan :

"PT Neraka Jahanam, memberi informasi masalah:

* ilmu hitam/putih,
* cara hidup/mati sehat,
* cara berbuat baik/jahat,
* jual beli peti mati/kain kafan baru dan bekas,
* jual beli tanah kavling untuk kuburan,
* jual beli setan/jin/tuyul dan sejenisnya".

Namun siapa yang menyangka, sejak tahun 1998 lalu, Ki-Gendeng menyatakan
diri-nya mengikut Yesus. Ki-Gendeng yang bernama asli Isanmarsadi adalah
anak nomor tiga dari lima bersaudara yang dibesarkan di-tengah keluarga
yang kuat dan taat tradisi-nya. Sejak kecil ia sangat senang dengan ilmu
kebatinan dan mempelajari-nya dengan sungguh-sungguh. Bahkan ketika SMP
ia su-dah beberapa kali menyembuhkan sakit teman-teman sekolah-nya.

Ki-Gendeng mengaku mendalami ilmu hitam pada 59 guru di 16 propinsi
di-Indonesia, dan ke-gilaan-nya pada ilmu hitam sempat membawa-nya
sampai ke-Afrika untuk belajar voodoo. Sejak 1978 karir-nya meningkat
pesat dan ia menjadi orang terkenal yang disegani banyak orang. Dengan
ilmu-nya yang tergolong tinggi, banyak orang datang kepada-nya untuk
melakukan order mem-bunuh atau mencelakakan orang. Dan untuk itu ia
menerima bayaran yang tinggi pula sehingga tak heran kekayaan-nya
semakin melimpah. Menurut pengakuan-nya, kalau dihitung-hitung sudah 800
orang mati terkena santet-nya.

Kisah pertobatan Ki-Gendeng diawali ketika ia berada di-Timur Tengah
ketika sedang menjalani kewajiban rohani bersama keluarga-nya. Tiba-tiba
saja ia mengalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan sehingga ia dibawa
kembali ke-hotel. Di-dalam kamar-nya Ki-Gendeng bersembahyang menurut
iman-nya meminta pertobatan, karena diyakini kelumpuhan itu adalah
akibat dosa per-buatan-nya menyantet orang.

Saat sembahyang itu Ki-Gendeng merasa ada yang memegang tangan-nya, tapi
tidak tahu siapa. Ibu dan anak perempuan-nya yang ada di-dekat-nya
ketika ditanya hanya diam saja. Dan saat itu tanpa disadari-nya
Ki-Gendeng sudah bisa berjalan lagi. Dengan penasaran ia bertanya lagi,
siapa yang menggandeng tangan-nya.

Akhir-nya keluarga-nya memberitahu bahwa yang menggandeng tangan-nya
adalah Yesus.
Kejadian aneh yang dialami-nya membuat Ki-Gendeng bingung dan
bertanya-tanya, karena ia bu-kan pengikut Yesus dan rasa-nya tidak
mungkin ibu-nya berbohong.

Akhir-nya iapun menyadari hal tersebut dan percaya bahwa yang
menggandeng-nya adalah Yesus. Malam hari-nya, ketika ia kembali
bersembahyang, Yesus sekali lagi menjamah-nya dan saat itu pula tanpa
ada keraguan lagi Ki-Gendeng mulai mengerti dan menerima Yesus sebagai
Tuhan.
Sepulang ke-tanah air, Ki Gendeng ternyata masih tetap praktek
menjalankan profesi-nya yang lama. Rupa-nya ia tidak sadar bahwa sejak
ia menerima Yesus segala ilmu-nya telah lenyap. Beberapa order yang ia
terima semua-nya gagal sehingga membuat-nya malu dan mengembalikan uang
yang sudah ia terima. Ramalan-nya pun masih banyak ditemui di-berbagai
media massa, dan lucu-nya, ramalan-nya banyak yang meleset tapi orang
masih mempercayai-nya.

Menyadari ilmu-ilmu pamungkas-nya sudah lenyap, Ki-Gendeng berasumsi
bahwa ia sekarang bukan paranormal lagi. Ia mulai sering mendengarkan
khotbah-khotbah, dan yang suka ia dengar-kan waktu itu adalah Pdt.
Gilbert Lumoindong yang sering muncul di teve. Rupa-nya Tuhan sudah
mengatur semua jalan hidup Ki-Gendeng, sehingga tanpa diduga mereka
bertemu di-Bandara Soekarno Hatta dan berada dalam satu pesawat menuju
Surabaya. Dari pertemuan itu, hubungan mereka semakin akrab dan
berlanjut dengan konseling yang lebih mendalam tentang kehidupan
Kristen.

Pdt. Gilbert akhir-nya memberikan suatu nama baru bagi Ki-Gendeng, yaitu
Paulus. Saat ini Ki- Gendeng, istri, anak-anak, ibu, kakak-nya yang
pertama dan adik-nya yang bungsu sudah menerima Yesus seperti diri-nya.
Ki-Gendeng dikaruniai lima orang anak, dua diantara-nya kembar
(pria-wanita) kini sedang belajar di-California, AS. Anak yang ketiga
sekolah di-Australia, nomor empat di-Singapura, dan yang bungsu masih
di-Indonesia. Sungguh ajaib karya Yesus dalam kehidupan Ki-Gendeng dan
keluarga-nya, walau tak mudah bagi seorang Ki-Gendeng untuk melepaskan
kuasa kegelapan yang menyelimuti-nya, tapi darah Yesus sanggup melakukan
itu semua.


Ki Gendheng Pamungkas Menangis

Kesaksian Ki Gendheng (Yogyakarta, BAHANA )
“Saya mohon didoakan oleh saudara seiman yang percaya Yesus ....agar
anak saya, Hangrani Masardi, biasa saya panggil Rindu...mudah-mudahan
bisa kembali pulang... Istri saya, anak saya dan saya sangat kangen.
Saya minta didoakan agar Rindu bisa pulang. Saya percaya anak saya masih
hidup. Hanya saya tidak tahu sekarang dia ada di mana.
Andaikata saya masih jadi pemuja Iblis, dengan ilmu vodoo saya bisa
men­cari­nya,”Ki Gendheng mengucapkan per­mintaan itu sambil
terisak-isak. Sesekali ia minum air putih agar bisa menata emo­sinya.
Sekitar 600 anggota jemaat yang hadir pada KKR GBI Bethany, 7 September
2000, terlihat hening ikut merasakan kesedihan Ki-Gendheng. Anak
keduanya itu menghilang setelah Ki Gen-dheng membuat kesaksian di-gereja
di-daerah Tubagus Angke. Rumahnya juga dibakar. Ia men-duga semua itu
perbuatan sebagian teman-temannya dulu. Dulu, ia memang dikenal sebagai
tokoh ilmu hitam yang terang-terangan mengaku sebagai “pemuja Iblis”
dalam kartu nama-nya.

Sejak kecil tokoh paranormal yang bernama asli Ihsan Masardi ini sudah
bercita-cita jadi “penjahat yang baik”. Ia melihat banyak orang susah
disekitarnya. Karena itu ia bertekad menjadi “perampok yang baik “ untuk
dibagi-bagikan pada orang yang miskin. Sewaktu jadi penjahat, ia pernah
bertemu almarhum Kusni Kasdut, penjahat legendaris yang ia kagumi.

“Dia membe­ritahu kalau mau jadi penjahat, saya harus punya macam-macam
ilmu. Misalnya ilmu Lembu Sekilan,” kata Bapak dari lima anak ini, “Dia
lalu memberi saya jimat.” Setelah itu ia men-datangi beberapa tokoh
dukun di-Jawa dan Kalimantan.

Suatu saat ayah-nya jatuh sakit. Dokter mengatakan tidak apa-apa, tapi
menurut paranormal ayah-nya kena santet. Ia ingin tahu orang yang
menyantet ayah-nya. Ia lalu berkisah: “Tanpa sengaja saya melihat film
horor tentang seorang anak yang belajar ilmu santet. Di-situ-lah saya
dapat ide belajar ilmu santet. Pertama kali saya datangi kawasan Jampang
Surade di-desa Ciwaru untuk ber-guru pada bapak Hasan. Setelah lulus
jadi penyantet, saya harus membunuh guru saya itu.

Saat pulang, ayah saya sudah koma di RS Gatot Subroto. Dua hari kemudian
akhirnya meninggal. Saya semakin ber­tekad mencari orang yang menyantet
ayah saya. Ternyata orang itu adalah rekan kerja ayah yang tidak suka
pada posisi ayah saya.
Pada malam Selasa Kliwon, saya memprak­tikkan ilmu santet saya. Kamis
pagi jam sembilan orang itu meninggal dunia.
Ketika di Moskow saya melihat para-normal bisa dikomersialkan. Karena
itulah saya berani me-masang pengumuman di Hotel Hilton Jakarta: ’Ki
Gendheng Pamungkas menerima order santet’”. Kalau yang saya santet tidak
mati, orang itu harus saya tembak. Kehidupan saya ketika itu cukup enak.
Saya bisa menyekolahkan anak saya ke luar negeri. Saya juga punya rumah
di-Australia, Kalifornia dan Singapura.

Tapi hati saya tidak tenteram dan hampir tidak bisa tidur. Puncaknya,
saat melakukan perjalanan spiritual ke luar negeri saya jatuh terkapar
tak berdaya. Untung-nya, saya bisa sembuh dari ke­lum-puhan setelah saya
dija­mah tangan Tuhan Yesus. Saya hanya melihat bayang­annya sekali,
tapi ibu saya, anak saya dan saudara saya beberapa kali melihat
bayang­an Yesus di dekat saya.

Saya lalu pulang ke Jakarta, tapi peristiwa itu saya pendam nyaris 5
tahun. Saya tidak cerita pada siapa pun. Hingga suatu saat saya bertemu
Pdt Gilbert Lumoindong. Saya bilang pada pak Gilbert, “ Saya ingin
menjadi orang Kristen”, kata saya. Tapi pak Gilbert memberi syarat,
“Kamu harus buang semua ilmu vodoo kamu.”

Saya belajar ilmu vodoo dari Afrika karena sangat praktis. Untuk
menyantet orang. tidak perlu per-siapan yang berhari-hari. Bila ada
order datang jam tujuh, korbannya sudah mati pada jam delapan. Perlu
diketahui, saya bekerja sama dengan oknum dokter di RSCM agar bisa
membeli darah dan otak korban kecelakaan atau korban pembunuhan. Ritual
vodoo me­mang harus menggunakan cara itu. Saat melakukan penyembahan,
barang-barang itu saya minum dan makan. Untuk mendapatkan ilmu vodoo
itu, saya harus membunuh seorang wanita yang belum menstruasi. Dia saya
beri rempah-rempah selama 3 hari, 3 malam, lalu menidurinya. Setelah itu
saya, memakan otak, hati dan jantungnya. Tulang rusuknya saya ambil
untuk dijadikan susuk di tangan kanan saya.

Pak Gilbert menyuruh saya membuang susuk itu. Sebenarnya ia menyuruh
saya pergi ke rumah sakit. Tapi saya tolak karena caranya tidak boleh
begitu. Saya lalu ambil silet untuk menyilet tangan saya sendiri.
Lukanya sepanjang 10 cm Rasanya sakit sekali! Untuk menjahit lukanya,
saya pakai benang jahit sepatu. Kebetulan ada tukang sol sepatu yang
lewat. Melihat itu Pak Gilbert hanya bisa menangis. Tapi saya
bi­lang,”Nggak apa-apa Pak. Saya sudah biasa sakit.”

Peristiwa itu juga saya pendam. Tapi rencana Ye­sus memang lain. Saya
ketemu Pdt. J. Girsang yang juga seorang penga­cara.
Kebetulan saya se­dang mengin­timidasi se­buah pengadilan di Lampung.
Saya minta tolong untuk dica­rikan pendeta yang bisa
menginter­pres­tasikan sikap-sikap kontro­versial saya ini. Lalu
ditunjuk-lah Pak Hans Jefferson. Oleh Pak Hans saya diminta membuat
kesaksian tentang peng-alaman spiritual saya itu, bahwa yang
menyem­buh-kan saya adalah Tuhan Yesus.
Jejak saya mengikut Yesus ini diikuti oleh ibu saya, anak saya yang
pertama, kedua dan kelima, kakak saya nomor satu, adik saya nomor enam
dan tujuh. Kini saya bercita-cita ingin menjadi pelayan Yesus yang
baik,” kata Ki Gendheng. @biz