Translate

Wednesday, May 22, 2013

Wahyu 6




 
KITAB WAHYU
Pasal6

Enam meterai yang pertama

Ini adalah kelanjutan dari pasal sebelumnya. Tidak ada jeda waktu. Sekarang, setelah Anak Domba itu mengambil gulungan kitab dari tangan Allah Bapa, maka dibukaNyalah satu demi satu meterainya. Kita ingat bahwa angka 7 itu mewakili kesempurnaan, kelengkapan, keseluruhan. Berarti gulungan kitab itu berisikan rangkuman semua peristiwa yang bersifat agamis dari zaman munculnya era Kekristenan hingga kedatangan Kristus yang kedua.

Kita harus cermat saat meneliti tulisan dalam Alkitab. Karena sumber penulisan Alkitab itu adalah satu, yaitu berasal dari Tuhan, maka semua kitab itu isinya saling melengkapi, saling menguatkan. Tidak ada yang bertentangan satu sama lain walaupun tangan yang menulisnya berasal dari orang-orang yang berbeda dan terpisah oleh jangka waktu yang lama.
Di sini kita lihat bahwa Anak Domba itu mengambil gulungan kitab dari tangan Allah Bapa, berarti di manakah posisiNya? Di hadapan Allah Bapa.

Kita ingat dari pembahasan Daniel pasal 8 dan 9, bahwa Kristus memasuki bilik yang Mahasuci dari Ka’abah yang di Surga pada tahun 1844. Tetapi di Wahyu pasal 6 ini, Dia masih ada di hadapan Allah Bapa, akan membuka meterai gulungan kitab yang ada di tanganNya. Jadi kesimpulannya, kita bisa menempatkan SEMUA PERISTIWA YANG AKAN TERJADI DENGAN DIBUKANYA KEENAM METERAI YANG PERTAMA DI SINI HARUSLAH TERJADI SEBELUM KRISTUS MASUK KE TEMPAT MAHASUCI DARI KA’ABAH DI SURGA, dengan kata lain, SEBELUM TAHUN 1844.



METERAI PERTAMA

6:1 Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: "Mari!"
6:2 Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.

< !--[if !supportLists]-->· Begitu meterai yang pertama dibuka maka salah satu dari kerub itu menyuruh Yohanes melihat.

< !--[if !supportLists]-->· “Kuda putih” ~ warna putih menandakan kesucian, kemurnian, kebersihan, kebenaran.
Kuda sendiri merupakan simbol peperangan karena pada zaman dulu kuda adalah binatang yang dipakai untuk berperang. Karena di sini kudanya berwarna putih, maka peperangan yang dilakukannya adalahpeperangan kebenaran, seperti yang digambarkan oleh:
Wah 19:11
Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar", Ia menghakimi dan berperang dengan adil.

Kita di sini hanya mengambil persamaan “kuda putih”nya saja, karena penunggang di Wah 19:11 ini berbeda dengan yang di ayat Wah 6:2. Tetapi kudanya sama kuda putih, melambangkan peperangan kebenaran.

< !--[if !supportLists]-->· orang yang menungganginya memegang sebuah panah” ~ Kata aslinya adalah τόξον [tox'-on] yang diterjemahkan “busur” dalam bahasa Inggrisnya, bukan “panah.”
I looked, and there before me was a white horse! Its rider held a bow, and he was given a crown, and he rode out as a conqueror bent on conquest. (NIV)

And I looked, and behold, a white horse. He who sat on it had a bow; and a crown was given to him, and he went out conquering and to conquer(NKJV)

Menurut terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari, juga “busur” bukan “panah”
Maka saya melihat, lalu nampak seekor kuda putih. Penunggangnya memegang sebuah busur, dan kepadanya diberi sebuah mahkota. Ia maju sebagai seorang pemenang (ABS)

Jadi kita memakai terjemahan kata“busur” saja untuk ayat ini.

Yang janggal adalah Yohanes hanya menyebut si penunggang kuda membawa busur, tapi tidak membawa anak panah. Mengapa hanya busur tanpa anak panah? Apa gunanya busur tanpa anak panah? Apakah mungkin bahwa periode yang dilambangkan oleh simbol kuda putih ini belum masuk kepada peperangan yang sebenarnya, jadi si penunggang kuda hanya membawa busur, tanpa membawa anak panah, karena pada periode itu dia belum perlu menyerang lawannya secara agresif?

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Mahkota di sini bahasa aslinya adalah “stephanos” yang artinya “garland” yang biasanya dipakaikan kepada seorang yang telah memenangkan suatu pertandingan. Bukan mahkota yang dipakai seorang raja yang bahasa aslinya disebut “diadeem”. Dengan demikian jelaslah bahwa yang menunggang di atas kuda putih ini adalah gereja Tuhan yang mula-mula, orang-orang Kristen awal, yang telah memenangkan pertandingannya,seperti kata Paulus di:
2 Tim 4:7-8
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

< !--[if !supportLists]-->· Kuda putih ini dikatakan “maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan”. Kita tahu betapa cepatnya injil di abad-abad pertama menyebar ke seluruh dunia. Kata Paulus di:

Kol 1:23
Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

< !--[if !supportLists]-->· Periode yang dilambangkan oleh kuda putih ini adalah periode penginjilan para Rasul, dari tahun 31 – 100 AD, periode yang sama yang diuraian dalam Wah 2:1 dalam surat kepada jemaat Efesus. Periode ketika injil yang diberitakan masih dalam bentuknya yang murni, belum terpolusi. Namun karena lawan yang mereka hadapi bukanlah manusia biasa, seperti kata Paulus dalam:
Efe. 6:12
karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

maka Tuhan sudah memberikan gambaran, bahwa seluruh sejarah penginjilan ini merupakan peperangan melawan Setan dan pengikut-pengikutnya. Dan tak pelak lagi, di kemudian hari, gereja Tuhan yang murni ini akan terperosok ke dalam jebakan Setan.




METERAI KEDUA

6:3 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kedua, aku mendengar makhluk yang kedua berkata: "Mari!"
6:4 Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar.

< !--[if !supportLists]-->· Ketika meterai yang kedua dibuka oleh Yesus, maka kerub yang kedua pun mengajak Yohanes untuk melihat.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Kuda yang kedua berwarna “merah padam”.
Merah adalah lambang dosa, seperti kata:
Yes 1:18
Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi,akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Maka Tuhan mengamarkan bahwa pada periode berikutnya setelah kuda putih itu, kemurnian dan kebenaran gereja Tuhan sudah terpolusi oleh dosa.Kuda yang tadinya putih bersih, sekarang berwarna merah. Ajaran-ajaran yang salah sudah mempolusi ke dalam gereja Tuhan, persis seperti peringatan yang diberikan Paulus di:
Kis 20:29-30
Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.

< !--[if !supportLists]-->· Selain itu merah juga adalah warna darah. Dan ini klop dengan “pedang yang besar” yang dibawa oleh penunggangnya. Dan dijelaskan pada periode ini si penunggang kuda itu “dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi”. Jika sesuatu yang murni telah terpolusi oleh dosa, maka kebenaran pun berubah menjadi kejahatan. Dan gereja Tuhan yang seharusnya berfokus pada pemberitaan injil kebenaran, sekarang justru “saling membunuh”dan mengalirkan darah.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Jika kita ingat surat Kristus kepada jemaat Smirna (Wah 2:8), kita menjumpai kondisi yang sama. Mereka adalah jemaat (gereja) yang pertama berurusan dengan Iblis yang mempolusi gereja Smirna. Dan mereka juga mengalami penganiayaan dari raja-raja Roma.Yang paling parah adalah dari tahun 303-313 AD pada masa pemerintahan Diocletian.
Sejarah mencatat bahwa Constantine bersama ayahnya tadinya mengabdi kepada Diocletian. Dia menyaksikan penganiayaan dan penyiksaan yang luar biasa dilancarkan kepada orang-orang Kristen pada tahun 303 AD. Pada 1 Mei 305 AD, Diocletian lengser, dan digantikan oleh Galerius. Menyadari bahwa nyawanya terancam, tak lama setelah itu Constantine melarikan dirinya bergabung dengan ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, Constantine mengangkat dirinya sebagai raja, dan diterima oleh Galerius. Secara sah Constantine mendapat titel Augustus pada tahun 306 AD dan berkuasa hanya atas ¼ daerah kerajaan Roma pada waktu itu. Pada tahun 313 AD Constantine mengeluarkan suatu Perjanjian di Milan yang memberikan toleransi kepada orang-orang Kristen dan mengizinkan mereka yang mau, boleh pindah menjadi pemeluk agama Kristen. Untuk sementara, penganiayaan dan pengejaran terhadap gereja Tuhan pun berhenti.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Periode yang disimbolkan oleh kuda merah ini adalah dari 100-313 AD, sama seperti periode jemaat Smirna.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Maka melihat dua meterai yang pertama itu membagi periode gereja Tuhan sama dengan yang tertulis dalam ketujuh surat kepada ketujuh jemaat di Wahyu pasal 2 dan 3, kita sudah bisa menyimpulkan, yang berikutnya akan mengikuti pola yang sama.

METERAI KETIGA

6:5 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketiga, aku mendengar makhluk yang ketiga berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hitam dan orang yang menungganginya memegang sebuah timbangan di tangannya.
6:6 Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."

< !--[if !supportLists]-->· Kuda ketiga bewarna hitam. Warna hitam adalah kebalikan/lawan dari warna putih. Kalau warna putih melambangkan kesucian, kebenaran, kemurnian, maka warna hitam melambangkan yang sebaliknya. Segala yang najis, segala yang sesat/palsu, segala yang kotor. Maka di sini jelas bahwagereja Tuhan sudah menunggang [duduk di atas] ajaran [kuda] yang sesat/salah/tidak benar.

< !--[if !supportLists]-->· Penunggangnya “memegang sebuah timbangan di tangannya”. Timbangan di dalam Alkitab dipakai untuk menggambarkan:
< !--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Perdagangan/jual-beli
Yer 32:9
Jadi aku membeli ladang yang di Anatot itu dari Hanameel, anak pamanku, dan menimbang uang baginya: tujuh belas syikal perak.
< !--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Korupsi
Hos 12:7
Sama seperti Kanaan, dengan neraca palsu di tangannya, dan suka memeras,
Amos 8:5
dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu
< !--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Penghakiman
Daniel 5:27
Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan;

Menurut sejarah, pada masa ini agama mulai dikomersialkan karena gereja yang sesat sudah menjadi serakah. Gereja membuatnya sedemikian rupa sehingga orang-orang harus membayar/mengeluarkan uang untuk membeli keselamatan. Semua pelayanan di gereja harus dibayar, misalnya untuk dibaptiskan, untuk diteguhkan [confirmation], untuk dinikahkan, untuk dikuburkan, untuk didoakan [dalam misa], bahkan untuk mendapatkan pengampunan dosa pun orang harus membayar! Dan itu menjadi sumber pemasukan yang besar bagi pengurus-pengurus gereja.

Selain itu, gereja juga menjual barang-barang “keramat”, tulang-belulang orang-orang yang dianggap suci. Banyak katederal yang mengaku memiliki barang-barang peninggalan ini, seperti jari-jari tangan yang katanya berasal dari tangan para Rasul, potongan dari kayusalib Kristus, rambut Bunda Maria, hingga bagian dari kepala Yohanes Pembaptis. Di buku A Laymen’s History of the Church of England” hal. 47-49 dikatakan bahwa gereja Canterburry mengungguli dalam hal kepemilikan barang-barang peninggalan ini. Sekitar tempat pemujaan St. Thomas dikatakan ada 12 kerangka komplet orang-orang yang disucikan, 3 tengkorak, 4 tulang lengan dan 300 tulang paha, tulang jempol, gigi, dan tulang rahang. Juga kata mereka, secuil dari palungan Betlehem dan tempat tidur sang Perawan, dan bagian dari meja perjamuan terakhir. Juga ada tongkat Harun yang bertunas dan yang lebih mengagumkan lagi ialah tanah liat yang katanya dipakai Tuhan untuk membentuk Adam!

Pada waktu itu gereja juga memberikan janji-janji palsu kepada mereka yang menghormati barang-barang “keramat”itu. Salah satunya adalah remisi dari api pencucian untuk jangka waktu yang lama.
Timbangan juga melambangkan penghakiman. Setelah diperingatkan berulang-ulang dan penolakan terhadap kebenaran Tuhan, Tuhan telah menimbang mereka dan mendapatkan mereka kurang beratnya. Dan karena mereka telah menolak kebenaran yang sejati, Tuhan pun menolak mereka.
Kata Hosea 4:6
Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu.

my people are destroyed from lack of knowledge. Because you have rejected knowledge, I also reject you as my priests; because you have ignored the law of your God, [= tidak mengindahkan hukum Allahmu] I also will ignore your children. (NIV)

My people are destroyed for lack of knowledge. Because you have rejected knowledge, I also will reject you from being priest for Me; Because you have forgotten the law of your God, [= melupakan hukum Allahmu] I also will forget your children. (NKJV)

< !--[if !supportLists]-->· Muncul suara dari tengah-tengah keempat kerub, berarti itu perintah dari Surga, bukan si penunggang kuda [=gereja] yang bicara. Apa perintah dari Surga ini? “"Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."
Di sini dipakai takaran yang dikenal pada zaman itu. Satu dinar adalah upah satu hari bagi seorang pekerja. Ini menggambarkan kondisi di mana makanan pada waktu itu sangat mahal, dan dengan sendirinya terjadi kekurangan/ kelangkaan makanan dan kondisi kelaparan. Karena di sini Tuhan berbicara tentang kondisi spiritual, maka tentu saja kelangkaan makanan yang dinubuatkan bukanlah kelangkaan makanan secara harafiah, melainkan secara rohani. Pada zaman itu terjadi kelangkaan/ kelaparan makanan rohani. Kebenaran Tuhan tidak lagi diajarkan dan diganti dengan segala macam ajaran yang salah.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Tetapi,minyak dan anggur” tidak boleh dirusakkan, artinya si penunggang kuda hitam itu [gereja] tidak diberi kuasa untuk merusak kedua item itu, yang masih tetap dipelihara Tuhan. Apakah yang dilambangkan oleh “minyak dan anggur”?

Minyak dipakai untuk melambangkan pencerahan/penerangan dari Roh Kudus. Kita ingat parabel 5 anak dara yang bodoh yang tidak membawa minyak tambahan dalam Matius 25:1-13. Kelima anak dara yang bodoh itu sebenarnya sama dengan kelima anak dara yang bijaksana, yaitu mereka:
< !--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->sama-sama adalah anak dara [artinya mereka memeluk ajaran yang murni/bukan ajaran yang sesat],
< !--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->sama-sama membawa pelita [artinya mereka kenal Firman Tuhan, pasti mereka membaca Alkitab],
< !--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->sama-sama pelitanya menyala [artinya mereka juga menghidupkan Firman Tuhan, aktif melayani Tuhan],
< !--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->sama-sama menunggu [artinya mereka sadar bahwa Kristus akan segera datang lagi,mereka bukan orang yang tidak perduli],
< !--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->sama-sama tertidur [artinya mereka sama-sama capek menunggu sehingga tidak waspada lagi].

Bedanya hanya satu, yang bijaksana membawa minyak cadangan, sedangkan yang bodoh, tidak. Yang bodoh tidak mempunyai penerangan tambahan dari Roh Kudus sehingga ketika Sang Mempelai tiba, mereka tidak siap menyambutNya.

Sedangkan anggur dipakai untuk melambangkan ajaran/doktrin. Dalam hal ini tentunya ajaran/doktrin yang benar.
Ulangan 32:32-33
Sesungguhnya, pohon anggur mereka berasal dari pohon anggur Sodom, dan dari kebun-kebun Gomora; buah anggur mereka adalah buah anggur yang beracun, pahit gugusan-gugusannya. Air anggur mereka adalah racun ular, dan bisa ular tedung yang keras ganas.

Jadiwalaupun masa itu adalah masa kegelapan secara spiritual [terjadi kelaparan spiritual], namun Tuhan tetap menjaga agar penerangan dari Roh Kudus dan ajaran/doktrin yang benar tidak lenyap. Dalam setiap zaman, Tuhan selalu memeliharakan sejumlah umatNya walaupun mereka diburu untuk dimusnahkan, namun selalu masih ada umat Tuhan yang tersisa untuk melanjutkan pekerjaan penyebaran injil keselamatan.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Kapankah kondisi spiritual sedemikian gelapnya, saat ajaran/doktrin yang sesat menggantikan kebenaran Tuhan, saat terjadi kelaparan rohani yang sedemikian parahnya? Begitu banyak tradisi pagan diperkenalkan ke dalam perbaktian gereja sehingga ajaran yang murni sudah nyaris tidak bisa dikenali lagi.
Maka periode yang disimbolkan oleh kuda hitam ini adalah dari 313-538 AD, sama seperti periode jemaat Pergamus dari Wahyu pasal 2.



METERAI KEEMPAT

6:7 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!"
6:8 Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Dibukanya meterai yang keempat memperkenalkan seekor kuda yang lain. Dalam terjemahan bahasa Indonesia disebutkan “kuda hijau kuning” dan mungkin ini membuat kita membayangkan warna jeruk nipis, hehehe. Tetapi bahasa aslinya memakai kata χλωρός [chloros] yang menggambarkan warna hijau abu-abu pucat, atau rona orang yang sakit parah menjelang ajalnya.

< !--[if !supportLists]-->· Ini cocok dengan si penunggang kuda tersebut, yang bernama Maut”,dan bahkan disebutkan “kerajaan maut mengikutinya”. Tentunya ini mudah dimengerti bahwa pada periode kuda berwarna kematian ini, akan terjadi banyak sekali kematian yang tidak wajar karena Maut sedang menjelajah di mana-mana, dan korbannya sebegitu banyak sampai dikatakan “kerajaan maut mengikutinya”.

< !--[if !supportLists]-->· Dan disebutkan bahwa maut ini diberi “kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh” Begitu luasnya daerah yang dijelajahi maut ini, seperempat bumi! Bisa kita bayangkan berapa jumlah korbannya, jika seperempat dari seluruh penduduk bumi yang dikenal pada saat itu, kena!

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Lalu Tuhan dengan jelas memberi petunjuk bagaimana korban-korban itu akan mati, yaitu “dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.” Keterangan ini sudah sangat jelas menunjuk ke zaman kekuasaan Kepausan ketika Kepausan membunuh semua yang berani menentangnya, di antaranya yang terkenal adalah pada masa Inquisisi di mana jutaan orang dibunuh karena tidak mau tunduk kepada Kepausan. Berapa orang yang mati karena pedang, atau dijebloskan ke ruang-ruang tahanan yang pengap dan kotor dan dibiarkan mati oleh kelaparan dan penyakit sampar, belum lagi mereka yang disodorkan sebagai makanan binatang-binatang buas dan lain-lain.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Maka periode yang dilambangkan oleh kuda berwarna kematian ini adalah dari 538 – 1517 dari saat Kepausan berkuasa tanpa ada lagi yang menentangnya hingga zaman Reformasi Luther dan kawan-kawannya.·



METERAI KELIMA

6:9 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.
6:10 Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"
6:11 Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Kita tahu bahwa empat meterai yang pertama, menggambarkan keadaan di atas bumi. Maka meterai yang kelima pun tetap menggambarkan keadaan di atas bumi. Ada orang yang berpendapat bahwa adegan pada pembukaan meterai kelima ini terjadi di Surga, dan yang dilihat Yohanes itu adalah arwah-arwah orang yang sudah mati, tetapi itu tidak benar. Mezbah yang disebut di sini adalah mezbah di bumi, bukan mezbah di Surga.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Kita tahu bahwa mezbah [altar] merupakan tempat mempersembahkan kurban. Di Surga tidak ada mezbah untuk mempersembahkan kurban. Di Surga hanya ada mezbah dupa. Mezbah untuk mempersembahkan kurban hanya ada di bumi. Jadi adegan yang dilihat oleh Yohanes adalah korban-korban yang dibunuh karena iman mereka, digambarkan mereka berada di bawah mezbah, karena mereka mati sebagai kurban.
Banyak orang menganggap ayat ini menyatakan bahwa orang-orang yang sudah mati, masih punya kesadaran, karena di ayat berikutnya dikatakan bahwa mereka mempertanyakaan kapan kematian mereka akan dibalas. Tetapi, lagi-lagi pengertian itu tidak tepat. Pada waktu Yohanes melihat adegan itu [sebelum tahun 100AD], korban-korban itu belum mati [mereka bahkan belum lahir!]. Mereka merupakan korban-korban Kepausan dari meterai keempat, yang masih akan terjadi beberapa ratus tahun lagi setelah Yohanes melihat adegan itu. Jadi Yohanes bukan melihat arwah-arwah orang mati, melainkan dia melihat ke masa depan, ke orang-orang yang kelak akan dibunuh beberapa ratus tahun kemudian.
Istilah “jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh” diterjemahkan dari bahasa Inggrisnya yaitu:
“And when he had opened the fifth seal, I saw under the altar the souls of them that were slain for the word of God, and for the testimony which they held”.

Istilah “soul” ini sering kita dapatkan di dalam Alkitab dan dipakai untuk beberapa makna, di antaranya berarti “manusia” atau “orang”,bukan arwah orang mati, misalnya di:
Bilangan 19:22
And whatsoever the unclean person toucheth shall be unclean; and the soul that toucheth it shall be unclean until even.
Segala yang diraba orang yang najis itu menjadi najis dan orang yang kena kepadanya menjadi najis juga sampai matahari terbenam."

Kisah Para Rasul 2:41
Then they that gladly received his word were baptized: and the same day there were added unto them about three thousand souls.
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. [= tiga ribu orang]

Jadi kata“soul” yang terkadang diterjemahkan “jiwa” seperti di Wah 6:9 ini, bukanlah arwah orang mati!

Ungkapan Yohanes melihat “jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh” merupakan suatu metafor. Yang dimaksud adalah Yohanes melihat orang-orang yang akan terbunuh berkumpul di bawah mezbah. Dan mereka berteriak minta keadilan.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih” keterangan ini jelas menyatakan bahwa mereka adalah umat Allah yang tidak mencemarkan dirinya dengan ajaran yang salah, yang setia sampai akhir, karena hanya merekalah yang akan mendapatkan jubah putih (Wah 2:17; 3:5).
Karena jubah putih hanya diberikan setelah Kristus datang ke dunia kedua kalinya untuk menjemput umatNya, maka kita tahu bahwa pemberian jubah putih ini masih di masa depan, saat semua umat tebusan sudah dibangkitkan dan mendapat tubuh baru yang tidak bisa mati.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuhsama seperti mereka.”
Kita lihat kalimat “mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi” ~ Di mana mereka beristirahat? Di kubur bukan di Surga! Lihat ayat di bawah ini:

Wahyu 14:13.
Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."

Amaran apa yang kita dapat dari kalimat ini?
Jelas bahwa setelah pembunuhan orang-orang yang dilihat Yohanes di bawah mezbah itu, masih akan terjadi lagi penganiayaan dan pembunuhan atas umat Allah sebelum martir-martir yang mati demi iman mereka ini dibalaskan.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagi yang sudah mempelajari Nubuatan Daniel, tentunya tahu bahwa sebelum peristiwa kebangkitan yang pertama yang bersamaan dengan kedatangan Kristus yang kedua kalinya, akan ada dua masa penganiayaan atas umat Allah terlebih dahulu (lihat Dan 12:2, 7). Maka Wah 6:11 ini juga menyebut tentang dua masa penganiayaan tersebut.Yang pertama terjadi saat dibukanya meterai keempat, yang korban-korbannya tampak oleh Yohanes berkumpul di bawah mezbah, dan setelah itu akan terjadi lagi masa penganiayaan yang kedua yang sudah diamarkan, hingga tercapailah jumlah martir yang harus dibunuh.
Walaupun yang menulis nubuatan itu adalah dua orang yang berbeda [Daniel dan Yohanes] yang dipisahkan oleh rentang waktu sekitar 700 tahun, dan dari tempat yang berbeda [Daniel di Babilon dan Yohanes di P. Patmos], namun pesannya sama, yaitu: umat Allah harus mengalami dua kali masa penganiyaan sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Periode yang dilambangkan oleh meterai kelima ini terjadi menjelang akhir dari periode meterai yang keempat, yaitu dimulai saat kebangkitan Reformasi Luther (sekitar 1517) hingga 1798. Selama beberapa abad, Alkitab telah menghilang dari akses orang-orang beragama. Tetapi dengan munculnya kebangkitan Reformasi, injil keselamatan yang tadinya sudah terpolusi oleh segala ajaran yang salah, mulai diperkenalkan lagi kepada masyarakat walaupun dengan harga yang mahal, yaitu pengorbanan nyawa pionir-pioner Reformasi yang mati sebagai martir.




METERAI KEENAM

12 Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.
13 Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Kita bandingkan ayat-ayat di atas dengan apa kata Yesus di:
Mar 13:24-25:
Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit

Mat 24:29
Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.

Yesus menyebutkan bahwa sesudah siksaan” artinya setelah masa penganiayaan terhadap umat Allah itu, akan terjadilah tanda-tanda di langit sama seperti yang disebutkan di Wah 6:12-13 di atas.
Seperti yang sudah kita ketahui dari nubuatan Daniel dan Wahyu, Kepausan diberi waktu 1260 tahun untuk berjaya dan menganiaya umat Tuhan. Hitungan 1260 tahun itu berakhir di 1798, jadi seharusnya meterai yang keenam itu baru dibuka setelah tahun 1798. Namun, karena kasih karunia Allah, masa itu diperpendek, karena andai tidak, maka tidak akan ada umat Tuhan yang selamat. Lihat apa kata Yesus di:
Matius 24:22
Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena [= maksudnya “demi”] orang-orang pilihan, waktu itu akan dipersingkat.
Markus 13:20
Dan sekiranya Tuhan tidak mempersingkat waktunya, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan yang telah dipilih-Nya, Tuhan mempersingkat waktunya.

Karena waktu itu diperpendek, maka meterai yang keenam sudah dibuka pada tahun 1755,43 tahun lebih pagi.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->“gempa bumi yang dahsyat” ~ ada ribuan kali gempa bumi yang sudah terjadi di ribuan tempat di seluruh dunia. Tetapi yang dibicarakan di sini adalah tanda yang pertama setelah meterai yang kelima.Kita tahu periode meterai yang kelima adalah sekitar 1517-1798, tetapi karena periode itu dipersingkat, maka meterai yang keenam sudah dibuka 43 tahun sebelum 1798.
Sejarah mencatat pada tanggal 1 November 1755, terjadilah gempa bumi dahsyat, meliputi sedikitnya 10’360’000 kilometer persegi, mengguncang sebagian besar Eropa, Afrika dan Amerika. Bisa dilihat di internet tentang gempa bumi akbar ini. Lisbon (Portugal) yang tadinya berpenduduk 150.000 jiwa, kehilangan 90.000 warganya dalam hitungan menit. Kerusakan paling parah terjadi di Spanyol, Portugal dan Afrika Utara, tetapi Eropa hingga Hindia Barat pun mengalami guncangannya pada hari yang sama.

Menurut tulisan Robert Sears dalam Wonders of the World, dikatakan bahwa:
“The great earthquake of 1755 extended over a tract of at least four millions of square miles. Its effects were even extended to the waters, in many places where the shocks were not perceptible. It pervaded the greater portions of the continents of Europe, Africa, and America; but its extreme violence was exercised on the southwestern part of the former.” (hal. 50)
“In Africa, this earthquake was felt almost as severely as it had been in Europe. A great part of the city of Algiers was destroyed. Many houses were thrown down at Fez and Mequinez, and multitudes were buried beneath their ruins. Similar effects were realized in Morocco. Its effects were likewise felt at Tangier, at Tetuan, at Funchal in the Island of Madeira; ... it is probable... that all Africa was shaken by this tremendous convulsion. At the North, it extended to Norway and Sweden; Germany, Holland, France, Great Britain, and Ireland were all more or less agitated by the same great and terrible commotion of the elements.” (hal. 58).

A.R. Spotford dan Chales Gibbon menulis dalam The Library of Choice Literature Vol. VII hal 162-163:
“In no part of the volcanic region of Southern Europe has so tremendous an earthquake occurred in modern times as that which began on the 1st of November, 1755, at Lisbon... In the course of about six minutes, sixty thousand persons perished... The great area over which this Lisbon earthquake extended is very remarkable. The movement was most violent in Spain, Portugal, and the north of Africa; but nearly the whole of Europe, and even the Est Indies, felt the shock on the same day... and at the distance of eight leagues from Morocco, a village with the inhabitants to the number of about eight or ten thousand persons, together with all their cattle, were swallowed up. Soon after, the earth closed again over them... In Antigua and Barbadoes, as also in Norway, Sweden, Germany, Holland, Corsica, Switzerland, and Italy, tremors and slight oscillations of the ground were felt... It is said that the movement of this earthquake was undulatory, and that it traveled at the rate of twenty miles a minute. A great wave swept over the coast of Spain, and it is said to have been sixty feet high at Cadiz. At Tangier in Africa, it rose full fifteen feet perpendicular above highwater mark, although the tide, which ebbs and flows there seven feet, was then at half ebb...”

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->“matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut” ~ tanda yang kedua setelah itu.
Yang dimaksud di sini adalah bagaikan karung yang terbuat dari bulu kambing.
(“...The sun turned black like sackcloth made of goat hair” – NIV). Peristiwa ini harus mengikuti peristiwa gempa bumi dahsyat sebelumnya.

Sejarah mencatat tanggal 19 Mei 1780 dikenal sebagai the Dark Day, yang berlangsung mulai pukul sepuluh pagi hingga tengah malam hari berikutnya dan terjadi di enam negara bagian Amerika yang dikenal sebagai New England, yaitu Connecticut, Maine, New Hampshire, Vermont, Massachusetts dan Rhode Island.

Referensi dari Webster’s Unabridged Dictionary, edisi 1884, hal 1604:
Dark Day, The. May 19, 1780; so called on account of a remarkable darkness on that day, extending over all New England. In some places persons could not see to read common print in the open air for several hours together. Birds sang their evening song, disappeared, and became silent; fowls went to roost; cattle sought the barn-yard; and candles were lighted in the houses. The obscuration began about ten o’clock in the morning, and continued till the middle of the next night, but with differences of degree and duration in different places. For several days previous, the wind had been variable, but chiefly from the southwest and the northeast. The true cause of this remarkable phenomenon is not known.”

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->“bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah” ~ tanda yang ketiga.
Bulan biasanya berwarna kuning [dari kuning pucat hingga kuning terang], karena dia memantulkan sinar matahari. Tetapi di sini dikatakan, bulan berwarna merah darah, artinya berwarna gelap. Dan itu disebabkan karena dia tidak memantulkan sinar matahari. Mengapa? Karena pada waktu itu langit gelap gulita. Sejarah mencatat pada hari yang sama, yaitu 19 Mei 1780, saat sinar matahari lenyap, di beberapa tempat di mana bulan masih bisa terlihat, warnanya adalah merah darah di langit yang gelap gulita.

Tulisan Samuel Tenny di Collections of Massachusetts Historical Society for the Year 1792 Vol I, hal. 97-98 berbunyi:
The darkness of the following evening was probably as gross as ever has been observed since the Almighty fiat gave birth to light... A sheet of white paper held within a few inches of the eyes, was equally invisible with the blackest velvet.”

Tulisan Uriah Smith dalam Daniel and the Revelation hal 409 berkata:
“... Whenever on this memorable night the moon did appear, as at certain times it did, it had, according to this prophecy, the appearance of blood.”

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi” ~tanda yang keempat.
Sejarah mencatat pada tanggal 13 November 1833,di seluruh Amerika utara, Kep. Hindia Barat, Meksiko terus ke arah selatan, dari pantai timur Amerika hingga ke Samudra Pasifik di sebelah barat bintang-bintang berjatuhan ke bumi yang berlangsung selama beberapa jam terus-menerus dari segala arah, seperti yang dinubuatkan yaitu mirip buah ara yang gugur tertiup angin kencang.

New York Journal of Commerce, Nov. 14, 1833, Vol. VIII no. 534 hal. 2 mencatat:
“... The falling stars did not come, as if from several trees shaken, but from one: those which appeared in the north fell toward the north; those which appeared in the south... fell toward the south, and they fell, not as ripe fruit falls. Far from it. But they flew, they were cast, like the unripe fruit, which at first refuses to leave the branch, and when it does break its hold, flies swiftly, straight off, descending, and in the multitude falling, some cross the track of others, as they are thrown with more of less force.”

Elijah, H. Burritt menulis di The Geography of the Heavens hal. 163:
“The most sublime phenomenon of shooting stars of which the world has furnished any record, was witnessed throughout the United States on the morning of the 13th of November 1833... The shower pervaded nearly the whole of North America, having appeared in nearly equal splendor from the British possessions on the north, to the West India Islands and Mexico on the south and from sixty one degrees of longitude east of the American coast, quite to the Pacific Ocean on the west. Throughout this immense region, the duration was nearly the same. The meteors began to attract attention by their unusual frequency and brilliancy from 9 to 12 o’clock in the evening; were most striking in their appearance from two to five, arrived at their maximum, in many places about four o’clock; and continued until rendered invisible by the light of day.”


SEBELUM YOHANES DIPERLIHATKAN PEMBUKAAN METERAI YANG KETUJUH, DIA DIBERI PENGLIHATAN TENTANG BEBERAPA PERISTIWA LAIN.

Di 4 ayat yang terakhir ini Yohanes menggambarkan KONDISI PADA WAKTU YESUS KRISTUS DATANG KEMBALI KE DUNIA UNTUK KEDUA KALINYA.

6:14 Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Setelah ketiga fenomena alam yang disebutkan di ayat 12-13 di atas, maka Yohanes diberikan penglihatan lebih jauh ke depan, ke saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya. “langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya.”
Ibrani 12:26
Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga."


6:15 Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung.
6:16 Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu."
6:17 Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?

< !--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Banyak nabi dan rasul telah melukiskan hebatnya hari tersebut. Kita bisa membacanya di:
Wahyu16:18,20-21
Maka memancarlah kilat dan menderulah bunyi guruh, dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu.... Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung. Dan hujan es besar, seberat seratus pon, jatuh dari langit menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.

Yeremia 4:23-27
Aku melihat kepada bumi, ternyata campur baur dan kosong, dan melihat kepada langit, tidak ada terangnya. Aku melihat kepada gunung-gunung, ternyata goncang; dan seluruh bukit pun goyah. Aku melihat, ternyata tidak ada manusia, dan semua burung di udara sudah lari terbang. Aku melihat, ternyata tanah subur sudah menjadi padang gurun, dan segala kotanya sudah runtuh di hadapan TUHAN, di hadapan murka-Nya yang menyala-nyala! Sebab beginilah firman TUHAN: "Seluruh negeri ini akan menjadi sunyi sepi, tetapi Aku tidak akan membuatnya habis lenyap.

Yesaya 24:19-21
Bumi remuk redam, bumi hancur luluh bumi goncang-gancing. Bumi terhuyung-huyung sama sekali seperti orang mabuk dan goyang seperti gubuk yang ditiup angin; dosa pemberontakannya menimpa dia dengan sangat, ia rebah dan tidak akan bangkit-bangkit lagi. Maka pada hari itu TUHAN akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya keadaan pada waktu itu. Yang bisa kita persiapkan adalah agar diri kita tidak termasuk mereka yang akan mengalami kengerian itu. Semoga kita termasuk mereka yang aman berlindung di dalam Tuhan kita.

Mazmur 37:39
Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan;
Mazmur 62:7 (8)
Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

Mazmur 142:5 (6)
Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku: "Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!"

(bersambung ke pasal 7)